Konsultasi Yuk!
Konsultasi Yuk!
Prinsip dan Metode Behavior Based Safety
🩺 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Prinsip dan Metode Behavior Based Safety

A
adminkesmas
Penulis Artikel
📅 23 July 2026
👁 15 views

Source : https://greenlab.co.id/news/Mengenal-dan-Mencegah-Kondisi-Kecelakaan-Kerja

Sumber gambar : https://greenlab.co.id/news/Mengenal-dan-Mencegah-Kondisi-Kecelakaan-Kerja

Prinsip dan Metode Behavior Based Safety

Behavior Based Safety (BBS) adalah perilaku keselamatan manusia di area kerja dalam mengidentifikasi bahaya serta menilai potensi risiko yang timbul hingga bisa diterima dalam melakukan pekerjaan yang berinteraksi dengan aktivitas, produk dan jasa yang dilakukannya. Behavior Based Safety (BBS) merupakan suatu bentuk komunikasi tidak langsung antara dua pihak baik, pihak pekerja dan pihak manajerial. Adanya komunikasi yang baik, maka penyebaran informasi terkait K3 tersebar merata ke pekerja. Behavior Based Safety (BBS) mengacu pada sebuah proses yang dirancang untuk mengurangi frekuensi kecelakaan yang berhubungan dengan pekerjaan dengan memantau perilaku yang aman dan mengurangi frekuensi perilaku pekerja yang negatif atau tidak tepat.

Premis utamanya yaitu: penyebab langsung sebagian besar kecelakaan kerja yang sering terjadi adalah perilaku karyawan yang tidak aman (misalnya tidak memakai peralatan pelindung yang tepat, dan melepas pengaman mesin). Menurut Geller (2001), perilaku aman dapat dilihat dari perilaku pekerja ketika melakukan pekerjaannya di tempat kerja. Pendekatan Behavior Based Safety akan lebih berhasil jika didukung dengan pendekatan dan metode yang mendorong peningkatan perubahan perilaku dari yang tidak aman menjadi perilaku aman guna mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Model ABC yang terdiri dari Activator-Behavior-Consequence menjelaskan bahwa perilaku dipengaruhi langsung oleh adanya faktor activator yang mendahului terjadinya perilaku tertentu dan faktor consequence yang akan dapat menentukan perilaku tertentu dilakukan ulang sebagai perilaku baru. Consequence dapat bertindak sebagai activator baru atau activator kedua yang dapat memicu munculnya perilaku baru atau perilaku lain.

Gambar 1. Model Perilaku ABC (Cooper, 2009) Sumber Gambar : https://maestrolearning.com/blogs/abc-model-of-behavior/

Proses Behavior Based Safety

Proses Behavior Based Safety menurut Prasetio (2017) sendiri terdiri dari identifikasi perilaku kritis, menetapkan tingkat perilaku dasar yang aman, dan mengembangkan mekanisme perbaikan berkelanjutan ke dalam program. Semua langkah dalam proses ini juga mewajibkan partisipasi karyawan untuk memastikan bahwa adanya program pendukung itu penting bagi berjalannya program secara efektif. Perilaku kritis dapat diidentifikasi dalam beberapa cara, termasuk evaluasi riwayat kecelakaan yang telah terjadi dan masukan dari mereka yang mengetahui tentang proses dalam organisasi. Benchmarks (tolok ukur) untuk perilaku aman, yang disebut sebagai tingkat dasar yang dapat diterima, diukur berdasarkan persentase waktu perilaku aman diamati. Supervisor yang telah diberikan training program audit Behavior Based Safety akan mencari data tersebut berdasarkan penggunaan observasi pekerjaan dan data lain berkenaan dengan perilaku aman yang diobservasi. Seperti halnya program lainnya, sebuah proses perbaikan berkelanjutan terintegrasi ke dalam program Behavior Based Safety. Benchmark dibuat, perilaku diamati dan diukur, perbandingan dibuat sesuai benchmark, dan kegiatan perbaikan diimplementasikan.

Menurut Geller (2005) mengidentifikasi tujuh prinsip utama yang harus dijadikan pedoman saat mengembangkan proses Behavior Based Safety atau alat untuk manajemen keselamatan, yaitu :

  1. Fokus pada proses intervensi terhadap perilaku

  2. Lihatlah faktor eksternal untuk memahami dan memperbaiki perilaku

  3. Perilaku langsung dengan aktivator atau antecedent (faktor yang melatarbelakangi) perilaku

  4. Fokus pada konsekuensi positif untuk memotivasi perilaku

  5. Terapkan metode ilmiah untuk memperbaiki intervensi perilaku

  6. Gunakan teori untuk mengintegrasikan informasi, jangan membatasi kemungkinan

  7. Rancang intervensi dengan mempertimbangkan perasaan dan sikap internal

Dalam pendekatan tradisional terhadap Behavior Based Safety, pekerja dan perilaku mereka adalah fokus utama. Tujuannya adalah untuk mendidik karyawan dan melembagakan proses yang melibatkan mereka dalam analisis perilaku, observasi, dan koreksi. Biasanya, karyawan mengembangkan daftar perilaku kerja kritis, mengamati teman kerja sebaya yang melakukan pekerjaan, melaporkan pengamatan ini kepada teman kerja sebaya, dan membantu mengembangkan tindakan perbaikan yang tepat.

Sumber referensi teori

Mahawati E, Fitriyatinur Q, Rahayu C, Aprilliani C, dkk (2021). Buku Keselamatan Kerja dan Kesehatan Lingkungan Industri. Penerbit Yayasan Kita Menulis. Web: kitamenulis.id e-mail: press@kitamenulis.id

Bagikan Artikel Ini

Bantu sebarkan informasi kesehatan yang bermanfaat.